Wisata Budaya

1. Desa Sade

foto: nasionalisme.co
foto: lomboktengahkab.go.id


adalah salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak. Suku Sasak Sade sudah terkenal di telinga wisatawan yang datang ke Lombok. Ya, Dinas Pariwisata setempat memang menjadikan Sade sebagai desa wisata. Ini karena keunikan Desa Sade dan suku Sasak yang jadi penghuninya. Sebagai desa wisata, Sade punya keunikan tersendiri. Meski terletak persis di samping jalan raya aspal nan mulus, penduduk Desa Sade di Rembitan, Lombok Tengah masih berpegang teguh menjaga keaslian desa. Bisa dibilang, Sade adalah cerminan suku asli Sasak Lombok. Yah, walaupun listrik dan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dari pemerintah sudah masuk ke sana, Desa Sade masih menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok.

Hal itu bisa dilihat dari bangunan rumah yang terkesan sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah. Orang Sasak Sade menamakan bangunan itu ‘bale’. Pemandu lokal kami yang bernama Bapak Mesah berkata ada delapan bale yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bale-bale itu dibedakan berdasarkan fungsinya. Ada 150 Kepala Keluarga (KK) di Sade. Dulu, penduduknya banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari). Tapi sekarang, banyak penduduk Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya. Uniknya, warga desa punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah.


2. Kerajinan gerabah penujak

foto: id.lombokindonesia.o
foto: id.lombokindonesia.org

Menurut sejarah, kerajinan gerabah di Pulau Lombok berawal dari sebuah Kendi yang sederhana. Ketel/kendi tersebut biasa dipakai dalam upacara Adat Urip (upacara kelahiran) dan Adat Pati (upacara kematian). Pada waktu kelahiran, kendi dipakai untuk menyimpan tali pusar. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, kendi digunakan untuk memasak. Dan pada saat kematian, kendi dipakai untuk memandikan jenazah. Nilai ini yang dipegang sepagai bentuk pengingat, bahwa manusia janganlaah menjadi sombong dan congkak. Karena manusia hanyalah segumpal tanah, yang akan kembali ke tanah pula. Serta kehidupan manusia yang juga tergantung pada sebuah kendi tanah yang sederhana. Kendi inilah yang kemudian dikembangkan menjadi ratusan bentuk kerajinan gerabah. Hampir mayoritas penduduk Desa Penujak Lombok memiliki mata pencaharian sebagai pengerajin gerabah. Pengerajin-pengerajin tersebut tersebar di 7 dusun, dengan masing-masing keahlian dan kekhasan. Dusun Andong memiliki gerabah gentong, Dusun Tongkek dan Dusun Kangi yang memproduksi gerabah tempat lilin. Dusun Mantung dan Dusun Toro dengan gerabah piringnya, dan Dusun Terandon yang memproduksi kendi. Sementara untuk finishing (tahap akhir) dipercayakan kepada Dusun Telage.

Di Desa Penujak Lombok ini Anda bisa menyaksikan berbagai proses pembuatan kerajinan gerabah. Mulai dari pematangan tanah liat, pembentukan gerabah, pengeringan, sampai proses finishing-nya. Semua proses tersebut dilakukan dengan alat-alat yang sederhana.

Desa gerabah Penujak Lombok terletak sekitar 35 Kilometer dari Kota Mataram, atau sekitar 2 Kilometer dari Bandara Internasional Lombok (BIL). Anda bisa mengunjungi Desa Penujak dengan kendaraan peribadi, dengan lama perjalanan dari Kota Mataram sekitar 50 Menit. Anda bisa menempuh rute melalui jalan yang menuju ke BIL. Setelah sampai di pertigaan Sengkol, beloklah ke kanan. Selanjutnya 15 Kilometer dari pertigaan tersebut, Anda akan sampai di Desa Penujak Lombok.

3. Kerajinan Tenun Tradisional Sukarara

foto: baltyra.com
foto: tribunnews.com

Desa Sukarara, merupakan desa penghasil kerajinan tenun songket Lombok yang terkenal. Lokasinya berada di luar jalur jalan negara, Kecamatan Jonggot, Lombok Tengah. Perjalanan menuju desa ini dapat ditempuh menggunakan angkutan umum dari Bertais ke Praya dan turun ketika menjelang sampai di Puyung. Kemudian dapat dilanjutkan dengan memakai jasa ojek menuju Sukarara. Desa ini berjarak sekitar 25 km dari kota Mataram. Disarankan, bila berkunjung ke desa ini sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan, mengingat angkutan umum yang jarang untuk ditemui.

Seperti dikenal sebelumnya bahwa Sukarara adalah sentra penghasil songket terbesar di Lombok. Hal ini sudah menjadi bagian dari komoditi hingga merambah pasaran luar negeri. Tenun songket merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan dengan hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna emas, perak, dan warna lainnya. Hiasan itu disisipkan di antara benang lusi. Terkadang hiasan dapat berupa manik-manik, kerang, maupun uang logam.
Setibanya di Sukarara, maka pengunjung akan langsung disambut oleh kaum perempuan berpakaian adat Sasak. Mereka dengan sigap mendemonstrasikan keterampilan mereka dalam menenun. Beberapa toko biasanya menyuguhkan tontonan teknik-teknik menenun kain songket, hal tersebut dapat langsung dilihat oleh para pengunjung. Teknik-teknik tersebut merupakan teknik tradisional sederhana yang masih dilakukan oleh pengrajin, yakni mulai dari mengolah benang (menggunakan pemberat yang diputar-putar dengan jari-jari tangan, pemberat tersebut berbentuk seperti gasing terbuat dari kayu), hingga menjadi selembar kain yang berwarna warni. Pengunjung yang berminat pun dapat turut serta mencoba menenun seperti perempuan-perempuan sasak itu.

Kain tenun rata-rata dikerjakan di rumah (home industry). Hampir setiap rumah memiliki alat tenunnya sendiri. Namun, profesi penenun hanya dilakoni oleh kaum perempuannya saja, sedangkan para pria bekerja sebagai petani di sawah. Ada tradisi unik terkait songket ini, kaum perempuan yang ingin menikah diwajibkan untuk memberikan kain tenun buatannya sendiri kepada pasangan. Apabila belum mampu membuat tenun songket, maka perempuan tersebut belum boleh menikah. Namun, bila nekat ingin menikah juga, maka perempuan tersebut akan dikenakan denda. Denda dapat berupa uang maupun hasil panen padi.
 

Motif-motif songket yang ditawarkan pun sangat beragam, antara lain motif ayam, motif kembang delapan, motif kembang empat, motif begambar tokek yang merupakan simbol keberuntungan, motif pakerot yang berbentuk horizontal, motif trudak yang berwarna violet, dan masih banyak lagi. Masing-masing motif memiliki maknanya sendiri-sendiri.

Desa Sukarara juga memproduksi tenun ikat. Bahan tenun ikat sangat sederhana yakni terbuat dari bahan katun. Waktu produksi tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup satu hari penenun dapat menyelesaikan tenun ikat sepanjang 3 meter..



4. Presean

foto: 7og4nk.blogspot.com
foto: kelilingnusantara.com

Peresean adalah pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras (perisai disebut ende). Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Peresean termasuk dalam seni tari daerah Lombok. Petarung dalam Peresean biasanya disebut pepadu dan wasit disebut pakembar. Dahulu Peresean digelar untuk melatih ketangkasan suku Sasak dalam mengusir para penjajah. Latar belakang Peresean adalah pelampiasan emosional para raja pada masa lampau ketika menang dalam perang tanding melawan musuh-musuhnya. Selain itu, dahulu Peresean juga termasuk media yang digunakan oleh para pepadu untuk melatih ketangkasan, ketangguhan, dan keberanian dalam bertanding. Konon, Peresean juga sebagai upacara memohon hujan bagi suku Sasak di musim kemarau. Kini, Peresean digelar untuk menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung ke lombok.



4. Bau Nyale

foto: liputan6.com
foto: travel.kompas.com

Nyale adalah sebutan bagi jenis cacing laut oleh orang Lombok yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Seorang putri cantik kerajaan yang memilih menceburkan dirinya ke laut lepas.  Alasannya cukup sederhana, Mandalika terkenal cantik. Sehingga banyak pangeran datang untuk memperebutkan Mandalika. Tak menginginkan terjadinya perang, Mandalika memilih untuk terjun ke laut. 

Dengan menangkap Nyale, warga mengartikan telah bertemu dengan putri Mandalika yang menjelma sebagai cacing. Tak heran jika dalam pelaksanaannya, ribuan warga dari berbagai usai mengerumuni laut hanya untuk menangkap cacing tersebut. 

Legenda Putri Mandalika ini dikenal hampir di seluruh penjuru Pulau Lombok bahkan hingga ke penjuru Pulau Sumbawa. Meski begitu, belum ada bukti kuat sejarah yang menyatakan Mandalika yang sangat melegenda ini. 

Proses menangkap Nyale dilakukan dengan menggunakan jaring khusus dan dimulai sejak dini hari menjelang pagi. Dibantu dengan alat penerang seperti senter, warga siap menangkap cacing yang memiliki beragam warna ini di tepi laut. Dibutuhkan kesabaran agar tangkapan banyak, mengingat cacing ini cukup lincah dan licin. Nyale warna-warni ini dikenal mengandung protein yang tinggi sehingga sangat nikmat dan layak untuk dikosumsi. Tak heran jika setelah menangkapnya, warga langsung memasak dengan cara pepes menggunakan daun pisang. Ini jadi salah satu wisata kuliner yang bisa kamu jajal.



5. Gendang Beleq

foto: change.org
foto: Ihsan Gazali Kuswantoro

Gendang Beleq adalah nama sebuah instrumen musik, yaitu gendang berukuran panjang lebih dari satu meter yang disandang pada pundak pemain Kata Beleq dalam bahasa Sasak berarti Besar. Tari Gendang Beleq merupakan tari perang walaupun tidak ada gerak yang menunjukkan perkelahian dan tidak ada pula yang membawa senjata perang, karena garapan geraknya selalu menunjukkan watak maskulin/ sikap jantan. Tari Gendang Beleq dahulu berfungsi sebagai tari pengiring para ksatria yang akan maju ke medan perang atau menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang.

Satu ciri khas dari Tari Gendang Beleq ialah bahwa yang menari adalah pemain-pemain musik itu sendiri. Karena sifatnya yang atraktif, Saat ini, Gendang Beleq ini sering kali diadakan untuk mengiringi arak-arakan pengantin (atau yang biasa disebut Upacara Nyongkolan) atau arak-arakan anak yang akan dikhitan, dan untuk penyambutan tamu penting di Bandara International Lombok.

Gendang Beleq dimainkan secara berkelompok. Gendang Beleq terdiri dari dua kelompok Gendang Beleq yang disebut mame (laki-laki) dan gendang nine(perempuan) yang berfungsi sebagai pembawa dinamika. Juga terdiri atas sebuah Gendang Kodeq (gendang kecil), perembak belek dan perembak kodeq sebagai alat ritmis, gong dan dua buah reog, yakni reog nina dan reog mama sebagai pembawa melodi. Para pemain memainkan Gendang Beleq dengan cara sambil menari. Pemain nya berkisar antara 13 s/d 17 orang.

Gendang Beleq memiliki nilai filosofis yang terkandung didalamnya. Masyarakat Lombok menilai bahwa Gendang Beleq ini memiliki keindahan, kesabaran, kebijakan dan kepahlawanan yang diharapkan dapat menyatu dengan masyarakat Sasak khususnya. Tari ini juga di pertontonkan di sebuah desa agar dapat menarik para wisatawan yang mengambil paket tour lombok dan yang menjelajahi Pulau Lombok.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »